Baca novel I Start With 13 Hidden Traits Chapter 3 bahasa Indonesia terbaru di Novel Lemon. Novel I Start With 13 Hidden Traits bahasa Indonesia selalu update di Novel Lemon. Jangan lupa membaca update novel lainnya ya. Daftar koleksi novel Novel Lemon ada di menu Daftar Novel.
Diposting oleh Novelagi pada January 21, 2026

Jika ada kesalahan dalam tulisan, silahkan lapor di kolom komentar

Hasil yang Mencengangkan

Tenang.

Aku menenangkan diri, mengamati sekitar dengan kepala dingin, lalu merangkum situasi.

Pertama, kulihat level para pedagang budak yang lebih dulu menyerangku.

【Lv. 3】

Hampir semuanya di level 3. Setara prajurit biasa. Selama mereka bukan prajurit elit gurun, masih ada celah untuk hidup.

“Kh—!”

“B-banyak sekali Hydragon!”

Masalahnya ada di sana.

Tiga monster raid boss level 5.

‘Sedangkan levelku… 1.’

Semua musuh lebih tinggi levelnya dariku.

Quest ini jelas tidak berperasaan. Bertahan hidup di tengah medan perang dengan level 1?

Apalagi monster boss punya efek tambahan di luar level.

‘Penglihatan Hydragon buruk. Mereka juga tidak bisa menggerakkan tubuh dan kepala secara bersamaan.’

Di dunia ini, selama tahu cara menghadapinya, bahkan karakter level 1 bisa membunuh boss level 5.

Sejak awal, Hydragon memang dirancang untuk dikalahkan oleh 12 pemain level 1.

Perbedaan level yang benar-benar terasa baru dimulai dari level 7.

Artinya, sebelum itu… masih bisa diakali.

‘Aku bisa.’

Belum waktunya putus asa hanya karena level 1.

Yang terpenting—

Aku adalah veteran paling veteran di game ini.

Kalau harus menggantikan peran 12 orang sendirian?

Ya tinggal dilakukan.

KLANG!

Pedang dan scimitar saling beradu.

Seorang prajurit sudah ada di depanku, membunuh dengan niat penuh.

‘Ini nyata.’

Bukan game.

Semua tidak lagi selesai dengan satu klik.

Ini medan perang sungguhan—daging bertabrakan, darah mengalir, tubuh terbelah.

Kalau tidak menggerakkan tubuh sendiri, mati.

Sekilas, situasinya tampak tanpa harapan.

Tapi ada satu hal—

‘Aku bisa melihat jalur pedang.’

Efek Weapon Master?

Aku bisa melihat dengan jelas ke mana harus mengayunkan senjata.

Begitu memegang senjata, tubuhku langsung paham.

Seperti sudah mengayunkannya puluhan ribu kali.

Gerakan yang harus kulakukan muncul di kepalaku—

Tidak.

Tubuhku bergerak lebih dulu.

KRAK!

Aku menepis pedang secara miring, lalu menghantamkan tinju ke rahang prajurit itu.

Saat dia oleng, lehernya langsung terpenggal.

Tak ada keraguan.

Tak ada rasa takut.

Jalur pedang—bahkan seluruh jalur pertarungan—sudah terpampang jelas di mataku.

Putri Ular menatap pusat pertempuran dengan sorot mata aneh.

Menghapus tempat ini adalah misinya—perintah mutlak Ratu Gurun.

Awalnya, itu tugas mudah.

Dia adalah petarung terkuat kedua setelah sang ratu.

Jumlah pasukan pun jauh lebih banyak.

Namun tiba-tiba, satu budak mengamuk dan mulai membantai tentaranya.

Yang lebih mengejutkan—

Satu Hydragon telah dibunuh olehnya.

Sendirian.

“……Makhluk apa itu?”

“Hah… hah… haaah!”

Rasanya jantungku mau meledak.

Setiap tarikan napas terasa seperti tenggorokanku disayat pisau.

Darah dan keringat menetes dari atas kepala—aku bahkan tak bisa membedakannya lagi.

Namun satu hal pasti—

Aku masih hidup.

KREK!

Setelah ratusan benturan, pedangku patah.

Formasi musuh semakin menyempit.

Tombak-tombak adalah yang paling merepotkan.

“Pedangnya patah! Bunuh!”

“Sekarang!”

Untungnya, mereka bukan tentara reguler.

Tidak ada koordinasi rapi.

Seorang tombak maju terlalu jauh karena terlalu bernafsu.

“Aaak!”

Aku berguling mendekat, menyapu kakinya.

Dia jatuh, tombaknya terlepas.

Sebelum tombak menyentuh tanah, aku menangkapnya.

Pedang musuh datang.

Aku mengaitkannya dengan ujung tombak, memanfaatkan pantulan untuk menepis.

Tubuh musuh kehilangan keseimbangan.

“Ghk!”

Aku menusuk lehernya—mati seketika.

Dengan suara srek, tombak kutarik dan kugunakan untuk menahan serangan lain.

Gerakanku seperti ahli tombak yang mendedikasikan hidupnya pada satu senjata.

Para prajurit terpaku.

Efek Jantung Penguasa Berdarah Besi membuatku tetap tenang dan tidak cepat lelah.

Sedangkan Weapon Master memungkinkanku menggunakan semua senjata seperti ahli.

Dan bersama Ketangkasan Tangan, efeknya berlipat ganda.



Hidden trait Ketangkasan Tangan mempercepat peningkatan skill.

Weapon Master memberiku dasar Lv. 5.

Ketangkasan Tangan membuat peningkatannya terasa mudah.

Skill maksimal adalah Lv. 10.

Lv. 6 setara dengan ksatria terkenal yang mengasah senjatanya seumur hidup.

Dan aku mencapainya… saat pertama kali memegang senjata.

Hidden trait memang bisa saling bersinergi.

Tapi hanya segelintir orang yang tahu.

Aku memakai semua senjata—

Pedang, tombak, sabit, busur, gada, scimitar.

“Monster sialan!”

“Dia juga mulai lelah!”

“Habisi!”

Jaring pengepungan semakin rapat.

Total musuh lebih dari 500.

Meski sudah membunuh satu Hydragon, sendirian tetap terlalu berat.

Aku baru level 1, tapi sudah membunuh puluhan prajurit dan satu boss.

Itu sudah melampaui batas.

Namun—




Aku tersenyum.

Inilah yang kutunggu.

‘Ronde kedua dimulai.’

Napas kembali stabil.

Gerakan musuh terasa melambat.

Seperti memasuki kondisi awakening.

“Berhenti.”

WUUUNG—

Suara perempuan mengguncang medan perang.

Para prajurit membeku.

‘Akhirnya muncul.’

Barisan terbelah.

Seorang wanita duduk santai di atas Hydragon.

Kulitnya putih, gerakannya anggun seperti kucing.

Aku mendesah pelan.

Putri Ular.

“P-Putri sampai turun tangan sendiri…”

Putri Ular mencibir.

“Dia belum lelah. Hanya berpura-pura.”

“B-tapi napas dan keringatnya—”

“Lihat baik-baik. Apa dia tampak terengah?”

Tatapan mereka beralih padaku.

Aku sudah tenang.

“Berpura-pura lelah… untuk menjebak kami?”

“Benar.”

Bukan niatku, tapi level up memulihkan stamina—dan disalahartikan.

Aku menatap Putri Ular tanpa perubahan ekspresi.

“Jarang ada yang tetap tenang saat berhadapan denganku.”

Tekanan membunuh terasa.

Namun Jantung Penguasa Berdarah Besi menahanku tetap stabil.

Aku melihat ke atas kepalanya.

【Lv. 8】

Level 8.

Di Pangenia, kekuatan sejati dimulai di level 7.

Dan level 8 adalah kelas pemimpin besar.

Satu atau dua orang per sejuta penduduk.

‘Sejak kapan ada orang sekuat ini di Faisalmer?’

Selain ratunya—seharusnya tidak ada.

Tapi wajahnya terasa… familiar.

Seperti pernah punya hubungan mendalam.

Dia mendekat.

“Siapa namamu?”

Aku belum memberi nickname.

Quest pun belum selesai.

Selama dia ada di sini, Survive belum tuntas.

Nama ini penting.

“Randolph.”

“Serigala Agung? Kau dari gurun?”

Nama Randolph hanya dikenal orang gurun.

Dia mengangkat alis.

“Kenapa orang gurun bersama sisa ekspedisi benua tengah?”

Nada jijik.

Orang gurun membenci manusia benua tengah.

Biasanya, mereka diperbudak lalu dibunuh.

Termasuk aku.

Tapi—

Mereka tahu ini ekspedisi, namun tetap dimusnahkan.

‘Penghapusan bukti.’

Tak ingin ekspedisi ini dikaitkan dengan gurun.

Aku paham situasinya.

Lalu berkata pelan,

“Aku mengamati pergerakan benua tengah.”

“Mata-mata?”

“Aku pergi atas kehendakku sendiri.”

“Omong kosong.”

Aku menatapnya.

“Bintang yang mengatakan.”

Tubuhnya membeku.

“…Bintang?”

Panik. Terkejut. Lalu harap.

‘Kena.’

Itu celahnya.

Dan satu-satunya jalan hidupku.

Aku mulai berakting.

“Aku seorang Pengamat Bintang. Aku tidak terikat suku mana pun.”

Dia terdiam.

“Putri Ular Isabella. Isabella von Dersian.”

“Bagaimana kau tahu nama lengkapku?!”

“Pengamat Bintang mendengar suara bintang.”

Mustahil—tapi itulah yang dia butuhkan.

Isabella ingin keluar dari gurun.

Namun terikat kutukan ratu.

Butuh berkat bintang.

Dan aku tahu ini karena—

‘Kenapa karakter buatanku dulu jadi Putri Ular sekarang?’

Karakter yang pernah kutinggalkan karena mentok.

Sekarang berdiri di depanku.

Saat itu—


Dan bukan hanya itu.


Aku terdiam.

“…Gila.”

Tidak ada kata lain untuk hadiah semacam ini.

Tags: baca novel I Start With 13 Hidden Traits Chapter 3 bahasa Indonesia, novel I Start With 13 Hidden Traits Chapter 3 bahasa Novel Indonesia, baca Chapter 3 online, Chapter 3 baru novel, I Start With 13 Hidden Traits Chapter 3 chapter, high quality sub indo, I Start With 13 Hidden Traits novel terbaru, web novel, , Novelagi

Rekomendasi

Komentar